Archive for November, 2007

23
Nov
07

Road to Bangkalan -Madura-

Ini dia oleh-olehnya. Selamat menikmati… ^^

 

11.jpg
Photo2 sebelum berangkat

 

2.jpg
Berangkaaaaattttt……!!!!

 

3.jpg
Photo2 di kapal.. :mrgreen:

 

4.jpg
Geng motor menguasai kapal :P

 

5.jpg
Perhatiin deh.. aku paling cakep sendiri… :lol:

 

6.jpg
Jalan2 ke mercusuar

 

7.jpg
Andi, salah satu tahanan mercusuar :P

 

8.jpg
Me in the dark mercusuar

 

9.jpg
Salah satu pemandangan dari puncak mercusuar

 

 

10.jpg
Ngintip Ke bawah (awas jatuuuuhh….!!!!)

 

111.jpg
Yang paling dinanti, tentu saja makan2nya… :lol:

 

12.jpg
Lagi ngobrol, ada yg moto. Langsung aksi deh.. :P

 

 

14.jpg
Selalu ada waktu untuk bernarsis ria :P

23
Nov
07

What’s wrong with me??

Kenapa ya, mood-ku akhir2 ini rada ancur?

Lagi PMS-kah? *cek tanggal* Nggak tuh… masa2 PMS udah lewat 2mingguan..

Banyak tugas-kah? *cek catetan tugas2* Nggak juga… tp tugasnya emang rada berat :P

Kesel ma seseorang-kah? *inget2* Mmm… mungkin juga. ada suatu kerjaan yang selalu bikin kesel

Lagi kesepian-kah? *mikir2* Iya.. sedikit.. :mrgreen:

Merasa bosan-kah? *garuk2 kepala* Sepertinya iya….

Merasa kangen-kah? *manggut2 dengan semangat* Iyyyyaaaaa…!!! bener banget neh.. :shy:

-Nti di lanjut lagi deh..-

-hehehehe… ternyata males ngelanjutin :mrgreen: -

Selamat ya, bisa membaca cuplikan self talk-ku :P

20
Nov
07

MAti lampu koq sering…

Kenapa ya akhir-akhir ini sering mati lampu?

Belum bayar listrik-kah?

Menghemat biaya listrik untuk tanggal 23-kah?

atauuuu… ada sabotase-kah?

14
Nov
07

Hasil bongkar-bongkar…

Mau blajar, udh g konsen. mata udh sepet. badan udh pegel2. Pengen bobo’!! alhasil jalan2lah saya k berbagai t4 dan membongkar berbagai tulisan saya di jaman dulu. Dari hasil bongkar2 itu, saya menemukan satu tulisan saya yang cukup menyentuh hati saya, dan saya tidak percaya bahwa itu hasil tulisan saya. Saya lupa apa tulisan itu pernah di posting di sini ato blm. tapi saya pikir, g ada salahnya untuk memosting lagi. Tulisan ini, cukup membuat perasaan saya terharu :P

================

Selama ini, saya hanya menulis untuk menggambarkan apa yang saya rasakan. Gaya penulisannya pun seolah saya sedang berbicara. Namun kali ini, saya tidak akan menceritakan atau menggambarkan perasaan yang sedang saya rasakan. Saya ingin menceritakan tentang seseorang yang entah sejak kapan telah menjadi salah satu orang yang penting bagi saya. Dia adalah Diya.

Diya adalah sesosok laki2 yang yah… mungkin kurang dapat menarik perhatian orang2… apalagi untuk seorang wanita. Tapi entah kenapa justru saya tertarik. Banyak orang yang heran karenanya, bahkan orangtua saya sendiri. Sebenarnya saya sendiri bingung jika harus menjelaskan apa yang membuat saya tertarik (menyayanginya). Saya akan mencoba mendeskripsikan tentang dirinya. Mungkin dengan ini, sebagian orang akan mengerti sedikit tentang dirinya.

Diya telah banyak mengajarkan banyak hal pada saya. Tapi lucunya, dia tidak menyadari hal itu sama sekali. Diya adalah seorang yang sangat penyabar. Sampai saat ini, belum pernah satu kalipun ia memarahi saya. Padahal saya tahu, saya telah melakukan beberapa hal yang kurang pantas dan telah membuatnya terluka berulangkali. Tapi entah kenapa, ia selalu menerima saya, bahkan ia selalu yang pertama kali meminta maaf jika terjadi sesuatu di antara kita(walaupun sebenarnya dia tidak bersalah sama sekali, tapi ia tetap mungucap maaf yang pertama kali) Dari sini, Diya telah mengajarkan saya untuk bersabar dan cepat meminta maaf. Apalagi terhadap orang yang kita cintai… Sampai saat ini, saya masih dalam proses mempelajarinya. Diya sangat memaklumi diri saya. Dia tau saya adalah orang yang keras kepala, tidak sabaran dan terkadang terlalu gengsi untuk mengucap maaf… Tapi dengan sabar, ia terus membimbing saya. Saya sering merasa malu karenanya.

Diya juga seorang yang amat sederhana dan apa adanya. Begitu berbeda dengan saya. Karena saya termasuk orang yang royal. Tapi ia tidak lantas menyuruhku untuk mengikuti gaya hidupnya. Ia hanya melakukan berbagai tindakan kongkret yang pada akhirnya menyadarkan saya.

Diya tahu, saya adalah orang yang sulit untuk menyampaikan apa yang saya rasakan kecuali melalui tulisan. Hal ini sering membut orang2 heran atas temperamen saya yang cepat berubah. Saya adalah orang yang lebih senang memendam apa yang saya rasakan. Tapi Diya mengajarkan saya untuk menyampaikan apa yang saya rasakan dengan porsi dan waktu yang tepat, tentunya dengan orang yang tepat pula. Sekarang saya mengerti kenapa orang terkadang sulit mengerti saya. Sebenarnya itu adalah kesalahan saya sendiri. Diya berbeda dari kebanyakan orang disekitar saya. Jika ia melihat saya sedang dalam keadaan bad tempare, ia tidak lantas menghindari saya seperti kebanyakan orang. Diya justru berada di dekat saya. Ia ingin saya dapat menumpahakan apa yang saya rasakan. Ia tidak mengijinkan saya melampiaskan kemarahan saya pada orang lain, karena ia tidak ingin saya dibenci orang atau memiliki musuh. Diya mengijinkan saya untuk berlatih dengannya. Ia mengijinkan saya untuk menyampaikan apa saja yang saya rasakan padanya, walaupun dengan porsi dan waktu yang mungkin kurang tepat. Katanya, seiring dengan waktu, saya akan tau sendiri porsi dan waktu yang tepat.

Diya sangat rendah hati, ia tidak pernah merasa dirinya hebat. Bahkan terkadang ia merasa tidak begitu baik untuk bersama denganku. Ia selalu merasa kalah dengan orang lain. Tapi hal itu tidak membuatnya merasa terpuruk. Ia malah berusaha keras untuk dapat menjadi lebih baik. Diya tidak pernah berlama2 dalam keterpurukannya, ia selalu berusaha untuk bangkit. Diya percaya, sesuatu yang tidak bisa membuatnya mati akan membuatnya semakin kuat.

Diya bukanlah orang yang suka bergantung pada orang lain. Ia lebih suka untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Bahkan ia lebih senang dapat memberi sesuatu kepada orang lain.

Di lingkungannya, Diya bukanlah orang yang dicintai namun bukan juga orang yang dibenci. Orang-orang hanya menutup diri untuk mengenal Diya lebih jauh. Namun demikian, Diya tetap memiliki orang2 terdekat. Diya sangat menyayangi mereka. Terlihat jelas dari keinginannya untuk dapat memberikan sesuatu pada mereka. Karena ia merasa, dirinya tidak akan menjadi seperti sekarang ini jika bukan karena mereka.

Diya juga bukanlah orang yang romantis, bukan pula orang yang mengerti bagaimana cara memperlakukan seorang wanita. Tapi ia selalu ingin membuat saya bahagia. Baginya yang terpenting adalah melihatku tersenyum bahagia. Diya tidak suka melihatku menangis. Ia pernah mengatakan pada saya bahwa segala beban yang ada terasa hilang jika melihat kebahagiaan terpancar di wajah saya. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya gombal, tapi ketika saya melihat kesungguhan di matanya ketika mengatakan hal itu, saya mempercayainya. Mungkin orang juga akan berkata bahwa saya dibutakan oleh cinta, entahlah… saya tidak berani membantah dan juga mengiyakannya. Tapi memang, saya percaya padanya dan saya tahu bahawa saya menyayanginya.

Dalam kehidupan saya, Diya memainkan berbagai peran. Terkadang ia menjalani peran sebagai seorang ayah, kakak, sahabat, musuh bahkan terkadang menjalani peran sebagai anak kecil yang bandel dan manja. Dengan segala perannya, terleburlah menjadi sosok yang saya cintai, dialah Diya.

Diya tetaplah seorang manusia biasa yang diselimuti kekurangan tapi apa gunanya saya menceritakan kekurangannya? Biarlah kalian mengetahuinya sendiri. Kenalilah ia lebih dekat….

Setelah membaca tulisan ini, saya berharap semua orang akan memperoleh gambaran tentangnya dan lebih memahami dirinya. Saya juga berharap orang2 akan berhenti menanyakan apa yang saya lihat dari dirinya, saya ingin semua orang iri pada saya karena ada orang yang mencintai saya seperti dia.

================

:lol:

g’nyangka ternyata saya bisa menghasilkan tulisan semacam itu.. :mrgreen:

14
Nov
07

Masih aja suka ngerasa salah T_T

Payah… setelah sekian lama, dirku kembali mengobral air mata! knp? itu karena perasaan bodohku! yep! merasa bersalah, merasa berkhianat.

Mas Yusuf bilang : “Dengan keputusanmu itu, setiap orang akan dapat plajarannya”
Mas Roni bilang : “Dulu waktu kamu ambil keputusan itu, kamu punya alasan kan?”
Mas Dian bilang : “Udahlah dek.. gpp.. g’ush dipikirin..”

Hhh.. trimakasih atas tebengan makannya ya.. feel better. rasanya g’pernah sebaik ini d.. :)