Aku dan Secangkir Coklat Panas

Entah bagaimana awal mula kami bertemu, yang jelas kami saling errr.. mencintai? hahaha.. whateverlah.. tapi sptnya lebih tepat kalau dibilang, aku mencintainya. Pertemuan kami selalu diawali dengan terciumnya aroma coklat. Trasa melayang-layang, menggelitik otakku dan memerintahkan untuk menghirup lebih dalam aromanya. Setelah itu akan dilanjutkan dengan bertemunya ujung lembab bibirku(krn sll kuolesi lipbalm) dengan permukaan air yang lembut, hangat mengejutkan.

Entahlah.. Tiap kali aku bertemu kembali dengannya setelah sekian lama tak jumpa, aku selalu dikejutkan dengan rasa panasnya. Tak jarang lidahku akhirnya terbakar. Tapi aku menikmatinya. Pertemuan yang berbeda, merupakan petualang yang berbeda. Menikmati coklat panas, bagiku layaknya menaklukan seekor hewan buas yang sangat liar. Hahaha.. lebay? Mungkin saja..

Tegukan pertama coklat panas, selau saja berhasil membuat tubuhku sedikit merinding. Hei! Bayangkan saja, aku memasukkan hewan buas yang liar ke dalam mulutku! Kukorbankan lidahku, bibirku, tenggorokanku, pasrah berserah diri pada rasa panasnya. Terasa panasnya menuruni tenggorokan, jantungkupun berdetak lebih kencang. Mungkin takut habis masanya berdetak karena tersiram air panas? Entahlah. Namun ketika akhirnya terasa panasnya coklat berhasil melewati saluran yang terasa tepat berada di sebelah jantungku, perlahan keteganganku-pun mengendur. Bahkan ketika aroma coklat bercampur, mengalir bersama darah yang mengalir ke seluruh tubuh, rasa rileks itu semakin menjadi-jadi. Rasa rileks ini disampaikan oleh syaraf menuju otak, membuat otak mengeluarkan titah untuk menguknya lagi, lagi dan lagi. Apakah ini candu? Entahlah.. akupun tak tau.

Tegukan kedua, ketiga, dan seterusnya, apakah sama dengan tegukan pertama? Hahaha.. jangan salah.. setelah tegukan pertama, aku telah mempelajari karakternya. Perlahan namun pasti, aku semakin menguasai permainan si hewan buas ini. Rasa rileks itu akan semakin menjadi dan menjadi.. Tak jarang akhirnya serangan kantukpun datang, dan memerintahku untuk segera tertidur, terlelap dalam selimut aroma coklat yang menenangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s