Jujur Juga Perlu Dukungan dari Lingkungan Keluarga Sedari Kecil

Gara-gara baca koran hari ini, juga pemberitaan tentang kegiatan contek massal saat unas SD akhir-akhir ini, mau gak mau aku jadi teringat masa kecilku, waktu SD. Masa SD kuhabiskan di 2 tempat. Kelas 1-2 di bandung, kelas 3-6 di lombok. Ada 1 cerita yang menyinggung masalah kejujuran yang membekas lama dalam ingatanku, dan tentu saja, itu yang akan kuceritakan kali ini๐Ÿ˜‰

Agak lupa bagaimana cerita tepatnya. Entah kelas 1 atau 2 SD, tapi iya, semasa aku di bandung. Aku berhasil membuat ibuku marah besar dan mungkin juga malu. Seingatku, waktu itu ulangan agama. Ada soal yang aku gak bisa jawab. And yep! Aku nyontek! (lupa nyonteknya tuh liat punya temen apa liat buku apa gimana)

Aku dibesarkan dalam keluarga yang terbuka, dan entah kenapa aku sulit menyembunyikan fakta dari keluargaku. Dah iya, cerita aku nyontek itupun mengalir dengan lancarnya dari bibirku ke ibuku. Aku gak nyangka ibuku bakal marah besar! Aku dimarah habis2an (tentunya aku pun menangis habis2an๐Ÿ˜€ ), dan ibuku mengancam saat itu juga bakal ke sekolah melaporkan tindakanku ke sekolah. Rasa takut akan sanksi juga rasa malu seandainya ketauan nyontek, membuatku berusaha menahan langkah ibuku. Bahkan aku sampai terseret beberapa meter dari rumah demi menahan langkah ibuku! (Dulu rumahnya daerah kompleks, jadi depan rumah jalan biasa, bukan jalan raya)

Para tetangga tentunya keheranan dari arah jalan denger suara anak kecil nangis sambil teriak2 dan suara ibu2 marah2. Keluarlah beberapa tetangga dan menanyakan apa yang terjadi. Ibuku-pun menceritakan kalo aku nyontek! Ya Allah malunyaaaaaa…

Ingatanku selanjutnya agak kabur, saat kutanya ibuku lagi, ibuku juga sudah lupa. Tapi seingatku, selanjutnya masalah aku nyontek itu diselesaikan dengan ‘damai’ antara aku dan ibuku, salah satunya aku berjanji tidak akan melakukan hal2 yang tidak jujur, baik itu berbohong maupun nyontek.

Sejak saat itu, hingga sekarang, aku sulit sekali berbohong atau berbuat curang. Sebenci-bencinya aku ma orang, aku gak berani untuk curang. Entahlah, apa mungkin karena trauma? Rasa yang kurasakan saat dimarah dan rasa malu saat orang lain tau dan tentu saja juga kepikiran dosa yang bakal nambah bikin aku takut berbuat curang.

Setelah kupikir2 lagi saat ini, mungkin tindakan ibuku itu lebay, berlebihan. Tapi aku juga senang, efeknya terasa sampai sekarang. Aku bangga pada ibuku, hanya karena aku anaknya, ibuku tidak selalu membiarkan aku merasa ‘aman’. Ibuku tidak ragu ‘menyakitiku’ agar aku belajar. Ibuku bilang, “lebih baik mama yang marahin kamu(aku maksudnya) daripada kamu dimarahin orang lain”

Saat kubahas lagi dengan ibuku, aku bilang dulu ibuku lebay marahin aku abis2an Cuma gara2 bohong, ibuku langsung bilang gini “Mama kan gak mau punya anak pembohong”.

*Tapi tetap saja namanya manusia tidak ada yang sempurna dan keadaan tidak selalu ideal sehingga kadang aku terpaksa berbohong๐Ÿ˜›

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s