Sedikit Introspeksi di Bulan Ramadhan

Bukan sekali dua kali dengar penceramah bilang biasanya di bulan puasa Ibu2 jadi lebih boros. Yah, terlepas dari kenaikan harga2 juga sih. Heuheuheu…

Tujuh tahun menjalani ramadhan jauh dari rumah, biasanya baru pulang menjelang Lebaran. Memang itu bertepatan dengan momen2 persiapan menyambut lebaran, jadi terasa ‘wajar’ kalau (sedikit) lebih boros😛 Tapi tahun ini, alhamdulillah aku sdh dirumah sejak hari pertama puasa, sejak awal Ramadhan. Jelas sekali terasa perbedaannya setelah sekian tahun awal Ramadhan dilalui di kota rantau.

Saat di rantau, sahur sama buka puasa ya seadanya aja. Malah kadang sahur cukup minum air aja. Berbeda dengan di rumah. Alhamdulillah, aku masih punya dua orang tua, saat dirumah, terasa sekali curahan perhatian orang tua saat puasa. Bukan berarti saat aku di rantau perhatian orang tua tdk terasa lho ya.. hehehe.. saat dekat kan bentuk perhatiannya lebih nyata, gak sekedar telepon/sms ingetin buat sahur/buka, tapi seringkali malah sampai disiapkan *ketauan deh manjanya gimana😛

Nah, bentuk perhatian spt ini paling terasa jelas terutama dari ibuku. Beliau tampak berusaha memenuhi kebutuhan gizi juga energi keluarganya saat berpuasa. Dan, disinilah aku merasa beliau agak (sedikit) berlebihan. Beliau jadi suka menyiapkan makanan yang (memang) lezat, mengundang selera. Dimana untuk itu membutuhkan biaya yang sedikit lebih banyak dibanding saat tidak berpuasa. Bukannya tdk bersyukur, tapi sekarang aku merasa sedikit paham kenapa para ibu2 biasanya menjadi (sedikit) lebih boros di bulan puasa. Karena ya itu, para ibu ingin walau puasa, keluarganya tetap sehat dan memiliki cukup energi untuk menjalankan aktifitas harian seperti biasanya dan juga rasa nikmat saat makan walau Cuma saat sahur & berbuka.

Kalau mengingat masa2 ‘sulit’ saat di rantau, ada sedikit perasan malu yang menggelitik, karena dirumah aku bisa merasakan nikmat yang belum tentu semua orang bisa rasakan. Tidak hanya nikmat makan, tapi juga nikmat perhatian dan kasih sayang dari orang yang kukasihi. Selain itu, setiap bulan Ramadhan tiba aku pasti teringat masa2 aku aktif jadi remaja masjid, dulu pernah aku ceritakan di sini.

Aku jadi semakin merasa malu, karena aku seringkali masih saja mengeluh, padahal masih ada banyak hal yang patut kusyukuri, sesuatu yang belum tentu orang lain miliki/dapatkan. Bahkan tidak jarang sebenernya hal yang kukeluhkan itu hal yang sepele. Ah, aku emang perlu lebih banyak belajar bersyukur & ikhlas. Sepertinya syukur & ikhlas merupakan ilmu yang tiada habisnya kita pelajari hingga ajal menjemput (mungkin)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s