Mbolang Kilat ~ Madura [part 1]

PERINGATAN: Kegiatan (kami) ini sangat tidak disarankan untuk ditiru!

Jembatan Suramadu

Dalam rangka memperingati dan *ah sudahlah, kurasa pendahuluan semacam itu tidak penting. Kita langsung menuju inti saja ya?:mrgreen: Intinya, tanggal 16 Oktober 2011 kemarin ini, aku melakukan perjalanan seru ke Madura. Semacam tur kilat gitu deh. Tentu saja bersama Akai-ku. Perjalanan ini merupakan rencana spontan (dan tentu saja agak tergesa-gesa😛 ) Jadi tidak sempat menggalang massa untuk diajak serta *selain juga alasan bingung, kira2 teman perjalanan yang seperti apa (lebih tepatnya siapa) yang bakal cocok dengan kami, mengingat perjalan ini agak sedikit mendadak dan tampak kurang terorganisir dan  kemungkinan perjalanan yang kami tempuh termasuk ‘keras’.

Aku & Akai memang sering melakukan hal-hal bersama secara spontan (dan tidak jarang kami dianggap gila gara-gara itu). Perjalanan kali ini salah satunya. Kami berencana untuk berkeliling Madura dengan menggunakan motor selama 2 hari 1 malam. Tapi karena tidak ada peserta lain (hanya berdua) maka kami (lebih tepatnya aku >.<) kesulitan mendapat ijin menginap *ijin dari ortu:mrgreen: Oleh karena itu, kami-pun tetap berusaha untuk bisa benar-benar menggila selama 1 hari di Madura!

Tentu saja rencana yang tadinya 2 hari jadi 1 hari ini memaksa kami membuat perubahan rencana di sana sini. Beberapa destinasi terpaksa kami hapus dari rencana. Kami tetap bertekad (atau mungkin nekat?) untuk bisa menjelajah sebagian besar P.Madura dalam 1 hari. Jadi, kami berencana untuk pulang pergi dari Surabaya hingga Sumenep dan daerah-daerah di sekitarnya dengan menggunakan motor.

Dari Surabaya, kami berangkat jam 6 pagi. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Waduk Klampis di Sampang. Kami tiba sekitar pukul 8. Sayangnya karena hujan belum juga singgah di Madura, waduk menjadi tampak kering. Padahal menurut Akai-ku, jika waduk terisi penuh air, pemandangannya cukup indah.

Waduk Klampis

Pada saat kami mengunjungi Waduk tersebut, tampak beberapa orang juga tengah asik berada di waduk. Ada yang memancing, ataupun sekedar mengobrol. Karena waktu kami hanya sempit, kami hanya berjalan-jalan sebentar di Waduk. Mungkin hanya sekitar 15 menit. Lagipula, kami tidak berani jauh-jauh meninggalkan motor yang tanpa penjagaan.

Sewaktu kami menghampiri motor hendak melanjutkan perjalanan, aku merasa ada sesuatu yang janggal. “HELM GW MANAAAAAAA?????!!!!” . Liriki kiri kanan, orang-orang koq tidak ada yang keliatan bawa helm-ku. Tidak ada yang tampak mencurigakan pula. Walau emang sih, orang yang tadinya berada di dekat motor kami koq sudah hilang entah kemana. Whuah! Kami berdua jadi heboh deh! Ditinggal bentar dan tidak jauh pula, itu helm bisa tiba-tiba raib aja gitu. Entah apa yang lucu, kami berdua malah menertawakan kejadian helm-ku yang hilang itu😆 *itupun sebenarnya helm pinjeman! Hahaha

Yah, mau tidak mau perjalanan kami jadi agak terhambat. Karena bagaimanapun, kami harus mencari helm pengganti. Oya, walau demikian, masih ada hal yang bisa disyukuri, helm Akai-ku tidak hilang! Padahal ya, helm dia tuh jauh lebih mahal dan bagus dari helm yang kupakai..😆

Waktu itu kami menemukan minimarket terdekat, kami langsung mampir. Siapa tau ada jual helm😆  Begitu masuk, aku menghampiri bagian penitipan tas (soalnya gimana-gimana kan kalo masuk ujung-ujungnya aku harus nitipin tas sama jaket). Aku langsung nanya “Mas, ada helm gak?” Masnya keliatan bingung. Aku juga baru ngeh pertanyaanku itu agak membingungkan. Whuahahaha.. dodooolll.. akhirnya aku tanya lagi, “maksud saya, di sini ada jual helm gak?” baru deh masnya ngerti😆

Sayangnya, ternyata tempat tersebut tidak menjual helm. Untung dengan baik hati masnya ngasi tau di mana tempat mencari helm.

Selama pencarian helm (baru) itu, kami jadi agak kucing-kucingan sama polisi. Kalo lewat lampu merah, sengaja berada di sebelah mobil, biar kami terlindungi dari penglihatan polisi. Whuahahaha.. aku juga agak khawatir sih kalo sampai ‘terjaring’ takut urusannya panjang, soalnya kebetulan plat motor yang kupakai kan plat motor dari luar daerah. Jauh pula. Dari Lombok meeeennnn… jadi khawatir bakal berbuntut panjang. Siapa tau diduga pelaku curanmor >.<

Untunglah, tidak berapa lama kami berhasil menemukan toko yang menjual helm. Menurutku, helmnya agak mahal sih. Tapi biarlah karena keadaan mendesak ini. Hehehe.. daaaaannnn… tau nggak? Beberapa meter dari toko itu, tau-tau kami liat ada polisi lagi nilang orang. Polisinya gak keliatan gitu, seperti ‘nyaru’. Pheew.. untung aku udah dapat helm baru, jadi loloslah kami..:mrgreen:

Pencarian helm itu benar-benar memperlambat perjalanan kami. Soalnya kami hanya memiliki waktu singkat untuk mengunjungi berbagai tempat. Gara-gara itu,  Akai-ku bisa dibilang nyetir motornya (agak) ngebut. Namun demi mencari toko helm yang tidak kami tau letaknya, mau tidak mau kami ‘berjalan’ lebih pelan. Walau demikian, entah kenapa kami tetap saja menganggap kejadian hilangnya helm & pencarian helm baru itu sebagai kejadian yang lucu. Bahkan sepanjang jalan kami tertawa ngakak😆  (Jadi ada semacam cerita berkesan deh dari perjalanan kami)

Setelah aku memperoleh helm baru, ‘ritme’ menyetir Akai-ku kembali. Wazzz wuuuzzz gitu. Agak horor juga. Manalagi menurutku pribadi (inipun setelah berulang kali mengunjungi Madura), cara orang berkendara orang Madura agak sedikit horor, selain ngebut, gak jarang berada di jalur yang salah/berlaawanan/tidak sesuai😀 . Jadi kalo papasan suka ngeri. Aku aja kadang jadi merem melek gitu gara-gara perasaan horor😆

Saat melewati daerah Camplong, aku cukup takjub. Agak mengingatkan perjalan mudikku dari Lombok-Bandung dengan menggunakan kendaraan sendiri (dengan papaku yang bertindak sebagai ‘supir’ :D). Jadi, jalan rayanya langsung berbatasan dengan laut. Kadang juga sedikit dihalangi tanaman bakau. Sayangnya waktu itu laut  tengah surut, jadi pemandangannya terkesan gersang.

Kami tidak mampir ke Pantai Camplong yang (sepertinya) cukup terkenal. Tapi kami mampir sebentar ke sebuah tanah lapang yang katanya milik salah seorang ternama di Indonesia, yang masih berada di daerah Camplong. Tanah lapang(yang gersang) tersebut berbatasan dengan laut. Di ujung tanah lapang ini terdapat sebagian orang tengah memancing. Namun karena air yang tengah surut, hasil memancing kurang memuaskan *ini kata yang mancingnya.

Daerah Camplong

Selanjutnya kami ngebut terus menuju daerah Pamekasan. Di sini, ada tempat unik yang ingin aku kunjungi, yaitu Vihara Avalokitesvara. Kenapa unik? Karena di dalam kompleks vihara ini terdapat mushola juga pura. Sayangnya, aku merasa penyambutan di sini kurang baik dan merasa diusir secara halus. Setiap pertanyaan yang kuajukan dijawab dengan tergesa & malas-malasan. Jadi tidak sampai 10 menit kami sudah pergi dari tempat ini. Aku sangat kecewa sekali. Tapi mungkin memang aku juga yang minim informasi. Karena aku Cuma browsing-browsing, tidak banyak info yang kudapat. Mungkin vihara tersebut bukan tempat yang bebas untuk dikunjungi. Tadinya kupikir bakal sama seperti yang ada di Kenjeran Park. Ternyata aku harus menelan kecewa.

Kekecewaanku tidak berlangsung lama, pemandangan menuju Sumenep cukup menghiburku. Apalagi saat tiba-tiba Akai-ku menyuruhku untuk melihat ke belakang. Sungguh, aku melihat pemandangan yang keren banget! Jadi aku berada di ‘atas’ Sumenep, aku bisa lihat jalan yang menurun, pepohonan, dan diujung, di dekat cakrawala, aku melihat laut! Benar-benar pemandangan yang indah. Tapi sayang, aku tidak pandai menggunakan kamera. Entah bagaimana cara mengambilnya agar hasil yang kuperoleh sama indahnya dengan yang dilihat langsung mataku. Walau demikian aku cukup puas dengan hasil fotoku😛

Pemandangan dari 'atas' Sumenep

Begitu sampai di Sumenep, kami langsung menuju Museum Keraton Sumenep. Aku excited banget mau mengunjungi tempat ini. Soalnya aku baru tau kalau di Madura ada Keratonan juga >.< (dapet info ini waktu browsing-browsing kira-kira di Madura mau mengunjungi apa aja)

Tapi Museum ini lebih banyak mengundang rasa prihatin-ku ketimbang rasa kekaguman. Banyak koleksi-koleksi yang tidak terawat dengan baik dan untuk beberapa koleksi, pengunjung dapat dengan bebas menyentuh beberapa koleksi yang menurutku sebaiknya koleksi tersebut minimal terlindung dalam kotak kaca. Beberapa keterangan yang biasa menjelaskan barang-barang koleksi-pun sebagian ada yang tidak ada, atau nomor bendanya hilang. Jadi saat membaca keterangan agak sedikit membingungkan.

Pun demikian, ada satu area yang menurutku menyenangkan. Yaitu, Tamansari Keraton Sumenep *kolam yang dulunya tempat para anggota Keraton ‘berendam’. Sekarang kolam tersebut dijadikan kolam ikan. Tempat tersebut terasa nyaman dan sejuk. Nyaman rasanya berlama-lama di area ini.

Tamansari Keraton Sumenep

Kami tidak punya cukup banyak waktu untuk berlama-lama di Madura. Jadi setelah cukup puas berkeliling Museum, kami mulai perjalanan pulang. Kebetulan juga memang sudah lewat tengah hari. Waktu makan siang sudah lewat sekitar 1 jam >.< Jadi setelah makan siang (yang terlambat), kami segera ngejoss untuk pulang, kembali ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang itu-pun, kami sempat mengunjungi beberapa tempat. Cerita mengenai perjalanan pulang, aku post di postingan berikutnya aja ya:mrgreen:

7 thoughts on “Mbolang Kilat ~ Madura [part 1]

  1. Pingback: mbolang kilat ~ madura [part 2/end] « Mata Pendosa

  2. Pingback: Ternyata, di Surabaya juga ada Planetarium! « Mata Pendosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s