​Memperjuangkan ASI di 10 Hari Pertama Kehidupan Adik – Part 1

Semenjak hamil babang, aku sama pak suami udah komit dari awal, mau kasi ASI untuk anak-anak kami. Jadilah waktu itu, kami rajin survey dan ‘belajar’. Mulai dari Rumah Sakit, dokter, konselor laktasi, cara2 menyusui, dlsb. Tapi karena satu dan lain hal, untuk anak kedua kami milih untuk bersalin di rumah sakit pilihan kedua. Persamaan dengan kelahiran babang cuma sama di dokter kandungannya aja, dokter anaknya beda 😅

Sebelumnya aku mau flashback sedikit jaman awal ngASI ke babang, karena gimanapun juga, pengalaman sewaktu sama babanglah yang mendasari keputusan2 yang kami ambil saat dan setelah adik lahir.

Sewaktu abang, alhamdulillah dokter anaknya pro-ASI banget, sabar, dan telaten. Begitu lahir, bentuk mulut & lidah abang diperiksa, bentuk putingku diperiksa, diperiksa juga apakah ASI sudah keluar. Selanjutnya diajari cara pelekatan yang baik.

Waktu itu kebetulan ASI belum keluar. Tapi dokternya ngasi penjelasan, memotivasi, juga bisa berempati. Keluarga yang waktu itu nunggu juga diajak untuk ngasi dukungan supaya ASIku lancar. Alhamdulillah, masuk hari ke-4, bener aja ASI mulai lancar. Jadi selama 3 hari pertama, babang (mungkin) tidak mengonsumsi apa2.

Sayangnya sewaktu lahiran adik, aku merasa dokter anaknya tidak bisa memotivasi untuk ngASI. Jadilah begitu check-out dari RS, malemnya aku langsung bawa adik ke dokter anak yang biasa nanganin abang. -fyi, tgl 15 abis maghrib lahir, tgl 16 menjelang ashar pulang- Iya, jadi sehari setelah lahir, adik langsung kami bawa ke dokter anak lain.

Begitu sampai dokter anak langganan, prosedur yg dilakukan pas jaman babang dilakukan lagi. Iyup! Cara pelekatan yang baik juga diajarin lagi! 😏 Oya, dan alhamdulillahnya kali ini ASI sudah keluar saat adik lahir, nggak seperti pas babang dulu. Makanya jadi (agak) percaya diri juga saat menandatangani surat pernyataan nolak saran sufor dari RS tempat adik lahir.

Aku sama suami sampaikan semua yang kami kurang sreg dari dokter sebelumnya. Sayangnya hasil cek darah adik dari RS tempat adik lahir tidak kami terima.. -aku juga baru nyadar kenapa aku nggak minta copy hasil tesnya ya? 🙈-

Akhirnya adik diminta untuk tes ulang GDS (Gula Darah Sewaktu), sekaligus golongan darah. Menurut dokter anak sebelumnya, GDS adik rendah (nilainya 61), juga adik mulai tampak kuning, dan ASIku kurang. Jadi nyaranin sufor. Sedangkan menurut dokter anak fav kami, GDS dgn nilai segitu masih normal utk bayi baru lahir, dan penampakan kuning pada adik juga masih normal dan bisa jadi penyebab kuningnya karena perbedaan goldar ibu-anak.. Bukan karena ASI yang kurang.

Alhamdulillah, hasil tes ulang GDS memang hasilnya sudah normal (71) Hihihi.. rasanya terbayar sudah malam sebelumnya hampir nggak tidur karena tiap setengah jam kuusahakan untuk nyusuin adik.. Semua lelah rasanya terbayar dan makin percaya diri kalo ASIku cukup!

Sedangkan untuk goldar, bener aja beda.. Aku A, sementara adik AB. Karena perbedaan golongan darah ini, akhirnya aku diminta dokter untuk kembali kontrol beberapa hari lagi, karena kemungkinan besar kuningnya progresif, jadi perlu dipantau.

Sebelumnya pas babang juga pernah begitu, dan alhamdulillah waktu itu babang baik-baik saja. Jadi malam itu kami pulang dengan perasaan lega. Alhamdulillaaaahhhh…

Cerita selanjutnya lanjut di part 2 ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s